Sisi Lain


Suporter Generasi Milenial, Siapa Mereka?

02 October 2019   14:45:31
Suporter Generasi Milenial, Siapa Mereka?

SHOPEE LIGA 1 2019 PSIM JOGJA

Oleh:
Hanif Marjuni
Media and Public Relation LIB

JAKARTA - Diskusi soal suporter, selalu memunculkan fakta dan fenomena yang menarik. Mulai dari militansi mereka dalam mendukung tim, kreativitas di atas lapangan, sampai dengan metode menambah jumlah anggota yang tercatat.

Baru-baru ini, muncul lagi fenomena yang tak kalah unik. Itu ada pada munculnya geliat suporter yang disebutkan generasi milenial.

Tepatnya pada pertengahan Agustus lalu, beberapa pengurus inti suporter fanatik PSIM Jogja, Brajamusti berkumpul di sekretariat mereka. Kebetulan, hadir dalam obrolan santai itu perwakilan dari tim media PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Dalam obrolan itu tercetus bahwa sebagian besar anggota Brajamusti merupakan suporter generasi milenial. Fakta ini sangat berbeda dengan fenomena empat atau delapan tahun silam. “Suporter generasi milenial ini sangat akrab dengan digital media. Apa yang tertulis di digital media terkait Brajamusti, selalu direspon dengan cepat,” jelas Dodo, salah satu pentolan Brajamusti.

Bagi kelangsungan klub, fakta adanya suporter generasi milenial ini bisa menjadi modal yang positif, tapi juga bisa menjadi kecenderungan yang negatif. Itu tergantung dalam mengelola dan mengantisipasinya.

Menjadi modal positif jika diarahkan dengan benar untuk mendukung tim. Dalam konteks ini, konten sosial media klub benar-benar bisa menjembatani kebutuhan informasi suporter fanatik. Dengan kata lain, media sosial klub harus paham selera, karakter, tabiat, sampai dengan memaksimalkan momentum.

Sebaliknya, generasi milenial akan menjadi bumerang, jika sosial media tidak difungsikan semestinya. Terutama sosial media resmi klub. Apa yang tertulis di sosmed akan ditelan mentah-mentah oleh suporter. “Fakta itu membuat kami sangat berhati-hati. Tidak mudah untuk mengeluarkan informasi atau himbauan. Apalagi teguran,” lanjut Dodo.

Brajamusti benar. Mereka harus jeli. Mereka harus ekstra hati-hati. Komentar, informasi apa pun soal klub, bahkan himbauan, harus disampaikan secara bijak dan tepat. Paham kondisi.

Kenapa itu mutlak dilakukan? Dari definisi generasi milenial di wikipedia diterangkan bahwa generasi ini adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Jika itu batasannya, ada beberapa karakteristik yang harus diperhatikan ketika menelaah generasi milenial. Beberapa riset menunjukkan karakteristik generasi milenial itu di antaranya percaya konten testimoni perorangan ketimbang informasi satu arah. Kemudian, memiliki akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi.

Seperti yang dituturkan pentolan Brajamusti yang lain, banyak anggota mereka yang masih di kalangan pelajar usia SMP hingga SMA. Itu artinya, mereka dalam proses transisi. Dalam kata lain, butuh adaptasi lagi untuk menjadi anggota kelompok suporter yang sebenarnya.

Adaptasi yang dimaksud misalnya bagaimana sikap yang harus dipatuhi dalam mendukung tim, kompak sesama suporter, fair play, dan siap untuk kalah atau menang.

Fakta di Brajamusti, bisa saja terjadi pada suporter lain. Termasuk di kalangan suporter yang selama ini sangat masif. Suporter yang jumlah anggotanya sudah mencapai di atas 50 ribu. Butuh strategi dan pendekatan yang benar-benar jitu kepada mereka.

Benar. Militan dan kreatif mendukung tim, layak untuk terus diagungkan. Tapi, jangan diracuni oleh pemikiran yang salah. Ingat, mereka adalah generasi milenial. Pendekatannya pun, akan berbeda.

“Dalam sudut pandang antropologi, generasi milenial ini tengah mencari identitas. Karena itu, metode yang paling pas untuk berkomunikasi dengan mereka ialah masuk ke dunia generasi milenial. Gunakan bahasa mereka,” jelas Novri Susan, Ph.D, pakar antropologi dari Universitas Airlangga.